
Karakter Pak Glenduk digunakan sebagai pemicu diskusi serta bahan kuis untuk pelatihan mengenai standar internasional pelayanan rumah sakit yang pesertanya sebagian besar non medis (bukan dokter, bidan atau perawat).
Pak Glenduk mendapat telepon dari seseorang yang menyatakan istrinya masuk UGD karena kecelakaan motor. Ia mencoba menelepon ke RS. Pelangi namun susah sekali masuknya, sekalinya masuk hanya disambut mesin “Terima kasih telah menghubungi RS. Pelangi, silahkan masukkan nomor extension yang anda tuju atau tunggu petugas operator kami.” Tunggu punya tunggu, tanpa hasil pak Glenduk segera datang ke RS. Pelangi.
Sebagai supir angkot, pak Glenduk membawa kendaraan bututnya ke RS. Pelangi yang megah. “Hei…hei…kamu! Ngapain ngetem disini? ……Nggak boleh masuk!” damprat pak Kumis dengan sangar. Setelah pak Glenduk menjelaskan barulah pak Kumis meminta maaf dan mempersilahkan masuk.
Didalam ruang bertuliskan UGD ia kebingungan bertanya pada siapa. Melihat pengunjung celingukan pak Tulis, petugas registrasi menyapa pak Glenduk.
“Saya hmmm istri saya katanya dbawa kesini habis kecelakaan motor. Hmmm…bagaimana ya kelanjutannya?” jawab pak Glenduk salah tingkah.
“Ooh siapa nama pasiennya pak? Bapak bawa KTP nggak? Punya kartu Gakin atau Jamkesmas nggak?” secara otomatis pak Tulis mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan standar yang selalu ia sampaikan pada keluarga pasien.
Belum sempat ia melepas lelah, terdengar namanya disebut melalui speaker “Perhatian. Panggilan untuk keluarga nyonya Glenduk, 49 tahun harap menghubungi dokter di ruang operasi lantai dua! Kami ulangi ….” Hati pak Glenduk kebat-kebit ketakutan saat memencet tombol lift.
Setelah celingukan saat keluar lift, ia melihat seorang laki-laki berpakaian biru memanggilnya. Orang itu tadi memberi tahu, “Pak, istrinya sedang di operasi. Untuk jaga-jaga tolong cari darah ya. ini formulirnya. Cepat ya pak!” pungkasnya lalu menghilang dibalik pintu.
Pak Glenduk terkejut setengah mati dan bingung mau cari darah kemana. Ia bertanya pada sesama keluarga pasien yang menunggu di sekitar ruang operasi, “Oh bank darah di sono pak, dari sini ke lantai satu terus keluar belok kanan…..” ujar seorang ibu menunjukkan arah. “Eh siapin duit pak, jangan lupa!” celetuk yang lain saat ia terburu-buru naik lift.
Termangu sambil duduk didepan loket kecil bertuliskan “Bank Darah” pak Glenduk nyaris tertidur. Ia terbangun saat nama istrinya dipanggil.
Pak Glenduk kembali terbengong-bengong didepan loket.
Di hadapannya ada setumpuk kantung yang kata petugas loket berisi darah. Seumur hidup ia tidak pernah melihat darah kecuali saat teriris pisau, apalagi darah dalam kantong plastik. Tidak terbayang sama sekali di pikirannya, bagaimana, apa, kenapa ….. darah dalam kantong.
“Iya pak, itu darahnya. Cepetan bawa sana ke kamar operasi.”saran petugas. “Hmm saya …ehhh bawanya pakai apa ya pak?” pak Glenduk tidak berani menyentuh tumpukkan darah itu.
Bukan apa-apa, ia merasa tangannya kotor. “Pakai kantong plastic aja pak. Nih kantong nya” jawab sang petugas menyorongkan kantung plastik hitam tipis padanya.
Sudah 2 hari pak Glenduk menunggui istrinya di rumah sakit. Dengan beralaskan koran ia tidur di lorong RS yang sepi saat malam tiba. Setiap pagi ia membelikan bubur sumsum kesukaan bu Glenduk untuk sarapan.
“Pak, aku ndak doyan nasi lembek sama sayur anyep. Beliin bubur sumsum sama gorengan ya” begitu pesan istrinya setiap sore. Untuk menghemat uang, dengan patuh pak Glenduk memakan jatah makanan istrinya sementara bu Glenduk makan masakan yang dibeli suaminya di luar.
“Eeeeh…..paaaak…..eeeh adouw!” terdengar teriakan dari kamar mandi. Pak Glenduk segera mendekati pintu kamar mandi. Didalam ada bu Kejut, yang tidur di sebelah istrinya. “Jatuh ya bu?” tanya pak Glenduk dari luar, ia tidak berani membuka pintu. Karena tidak ada jawaban, pak Glenduk segera keluar mencari suster.
“Eh ayo…cepat-cepat gotong. Hei kamu bantu gotong dong!” terlihat suster Juma mengomando evakuasi bu Kejut dari kamar mandi. Beramai-ramai suster dan keamanan memenuhi kamar mandi kecil itu. “Hei, Aktifkan code blue!” sambung suster Juma.
Berikutnya suasana kamar istrinya hiruk pikuk oleh perawat dan dokter yang sibuk menolong bu Kejut.
Pak Glenduk dan keluarga pasien lainnya diminta keluar ruangan agar tidak menghalangi.
Gemetar lutut pak Glenduk melihat bu Kejut tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia.
Kini ia merasa gundah mengingat istrinya demam dan kulit sekitar kakinya bengkak kemerahan. Pak Glenduk merasa ngeri.
Resik yang sedang istirahat setelah mengepel lantai mendengarkan keluhan hati pak Glenduk sambil merokok di balik pintu bertuliskan RAMP EVAKUASI.